Remaja Sering Buka Medsos? Hati-hati, Literasi Membaca Bisa Menurun – Kebiasaan remaja menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial ternyata membawa dampak serius terhadap kemampuan literasi mereka. Penelitian terbaru dari University of Georgia, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa semakin lama remaja menghabiskan waktu di media sosial, semakin lemah kemampuan membaca dan juga penguasaan kosakata mereka .
Hasil Penelitian University of Georgia
Penelitian ini memberikan bukti ilmiah tentang hubungan negatif antara durasi penggunaan media sosial dengan kemampuan literasi remaja. Para peneliti menemukan bahwa remaja yang terlalu banyak menghabiskan waktu di platform seperti TikTok, Instagram, dan juga YouTube cenderung memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih banyak membaca buku atau bahan bacaan panjang .
Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM), Sailal Arimi, menegaskan bahwa temuan ini sangat relevan dengan kondisi di Indonesia. “Semakin banyak waktu yang dihabiskan remaja di media sosial, semakin lemah kemampuan literasi membaca slot dan juga penguasaan kosakata mereka. Hal ini secara otomatis berdampak pada penurunan prestasi akademik di sekolah,” ujarnya .
Mengapa Media Sosial Berdampak pada Literasi?
Media sosial dirancang untuk menyajikan informasi dalam bentuk singkat, cepat, dan juga menghibur. Konten seperti video pendek di TikTok atau Instagram Reels hanya berdurasi beberapa detik hingga satu menit. Kebiasaan mengonsumsi konton instan ini secara perlahan mengubah cara kerja otak remaja dalam memproses informasi .
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan juga Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyebut kebiasaan ini sebagai “mindless scrolling” atau menggulir layar tanpa tujuan. Menurutnya, kebiasaan ini berbahaya karena pengguna bisa memutuskan apakah suatu informasi layak disimak atau tidak hanya dalam waktu kurang dari 20 detik. “Bayangkan, hanya 20 detik sudah bisa memutuskan, maka karena kebiasaan scrolling ini, kita bisa memutuskan hal-hal penting kurang dari 20 detik,” paparnya .
Kebiasaan ini berbeda jauh dengan aktivitas membaca buku yang membutuhkan fokus berkepanjangan dan kemampuan berpikir mendalam. Ketika remaja terbiasa dengan informasi instan, mereka menjadi tidak terbiasa membaca teks panjang, sulit berkonsentrasi, dan juga cepat bosan saat menghadapi bacaan yang membutuhkan pemahaman mendalam .
Kebijakan Pemerintah: PP Tunas
Menyadari dampak negatif ini, pemerintah Indonesia telah menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Kebijakan yang mulai berlaku pada 28 Maret 2026 ini membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun .
Platform yang terkena dampak kebijakan ini meliputi YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X (Twitter), Bigo Live, dan juga Roblox. Platform-platform tersebut dinilai memiliki tingkat risiko tinggi bagi anak-anak karena potensi konten negatif dan kecanduan penggunaannya .
Sailal Arimi menilai kebijakan ini sebagai langkah yang strategis dan relevan. “Pembatasan ini membantu anak memilih konten yang lebih aman dan juga sesuai dengan tahap perkembangan mereka,” ujarnya .
Literasi Digital vs Literasi Membaca
Pakar budaya dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Aprinus Salam, memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, menurunnya minat baca tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu memahami, mengolah, dan juga menyikapi informasi secara kritis, apa pun mediumnya .
“Apapun medianya, yang terpenting bukan sekadar meningkatkan minat baca, tetapi membentuk kesadaran tentang apa yang dibaca dan bagaimana cara membacanya. Banyak hal penting ada di media sosial, dan banyak hal tidak penting justru ada di buku,” ungkap Aprinus .
Ia menambahkan bahwa literasi sejatinya berkaitan erat dengan strategi hidup dan sbobet juga kebudayaan. Kebiasaan membaca tidak tumbuh secara instan, melainkan dibentuk oleh lingkungan keluarga, pendidikan, serta budaya sehari-hari .
Peran Orang Tua dan Juga Pengawasan
Pakar sepakat bahwa pengawasan orang tua menjadi faktor kunci dalam melindungi anak dari dampak negatif media sosial. Sailal Arimi menekankan pentingnya mengarahkan penggunaan gawai untuk hal-hal positif seperti belajar, mengembangkan keterampilan, atau membangun jejaring sosial yang sehat .
“Yang perlu diperhatikan bukan sekadar keberadaan gawainya, tetapi bagaimana fungsi dan juga penggunaannya, terutama bagi anak di bawah 16 tahun,” jelasnya .
Pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi yang mampu mengklasifikasikan pengguna berdasarkan usia. Dengan sistem algoritma yang tepat, konten yang muncul dapat lebih terfilter dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak .
Kesimpulan
Penelitian University of Georgia telah membuktikan bahwa terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial berdampak negatif pada kemampuan literasi remaja. Kebijakan PP Tunas yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun menjadi langkah penting untuk melindungi generasi muda.
Namun, kebijakan saja tidak cukup. Peran aktif orang tua dalam mengawasi dan jgua mengarahkan penggunaan gawai, serta upaya bersama untuk menumbuhkan budaya membaca yang menyenangkan, menjadi kunci utama dalam menjaga kemampuan literasi remaja di era digital ini.